SLUK BLUK OTO - Land Rover akhirnya secara resmi
meluncurkan Range Rover Electric, menghadirkan opsi tenaga baterai pada SUV
andalannya setelah sekian lama dinantikan.
Secara visual, versi listrik ini
hampir tidak berbeda dari Range Rover generasi kelima bermesin pembakaran
internal yang diperkenalkan pada akhir 2021.
Perubahan fisik hanya terbatas pada
desain gril yang lebih aerodinamis, pelek anyar, serta bagian bawah bodi yang
dirancang ulang guna menekan koefisien hambatan udara sebesar 0,01 cd dan
menambah jarak tempuh jalan tol hingga 16 km.
Model ini ditawarkan dalam
konfigurasi jarak sumbu roda standar maupun panjang, melalui varian SE, HSE,
Autobiography, SV, SV Ultra, SV Black, hingga model peluncuran First Edition.
Menggunakan platform Modular
Longitudinal Architecture (MLA) yang dielektifikasi, Range Rover Electric
dibekali dua motor listrik rakitan mandiri yang masing-masing menghasilkan 349
hp, dengan total output gabungan mencapai 542 hp dan torsi 850 Nm.
Spesifikasi ini melampaui varian V8
twin-turbo 4,4 liter murni. Akselerasi 0 hingga 96 km/jam dituntaskan dalam
waktu 4,3 detik, sedikit lebih cepat dibanding versi V8.
Sumber dayanya berasal dari baterai
litium-ion berkapasitas 118,5 kWh yang ditempatkan di bawah lantai kabin.
Mobil ini mencatatkan jarak tempuh
hingga 600 km berdasarkan standar WLTP atau sekitar 535 km menurut estimasi
EPA. Dengan arsitektur 800V dan pengisian daya cepat DC 350 kW, baterai dapat
terisi dari 10 hingga 80 persen hanya dalam waktu 22 menit.
Dilengkapi peredam aktif twin-valve,
suspensi udara dual-chamber, kemudi poros belakang, serta sistem Integrated
Traction Management dan Intelligent Driveline Dynamics, SUV ini sanggup
melintasi genangan air setinggi 900 mm dan menanjak hingga kemiringan 45
derajat.
Kendati demikian, bobot kendaraan
membengkak menjadi 2.885 kg dan kapasitas tarik maksimumnya turun menjadi 2,5
ton, lebih rendah dibanding versi mesin konvensional yang mencapai 3,5 ton.
Di pasar Amerika Serikat, Range
Rover Electric dibanderol mulai dari 138.000 dolar AS (sekitar Rp2,18 miliar),
atau sekitar 25.000 dolar AS lebih mahal daripada versi bensin standar. Di
Inggris, harganya dimulai dari 154.070 pounsterling (sekitar Rp3,11 miliar),
dengan seluruh proses produksi dipusatkan di fasilitas Solihull.

