SLUK BLUK OTO - Perjalanan kembali Chevrolet Bolt di pasar
kendaraan listrik tampaknya harus berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan.
Setelah sempat dihentikan dan
kemudian dihadirkan kembali dengan sejumlah pembaruan, mobil listrik berukuran
kompak ini dikabarkan akan mengakhiri masa produksinya pada kuartal pertama
tahun depan.
Keputusan ini menjadi antiklimaks
bagi General Motors (GM) yang awalnya memproyeksikan Chevrolet Bolt sebagai
salah satu pilar utama dalam lini kendaraan listrik terjangkau milik mereka.
Strategi GM dalam mengelola lini
Chevrolet Bolt memang penuh dengan dinamika yang cukup rumit. Pada awalnya,
Bolt serta Bolt EUV sempat dihentikan produksinya karena pabrikan ingin
mengalihkan fokus pabrik Orion Assembly untuk memproduksi truk listrik berukuran
penuh seperti Chevrolet Silverado EV dan GMC Sierra EV.
Namun, penerimaan pasar terhadap
truk listrik tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi awal, sehingga GM terpaksa
mengubah alokasi fasilitas produksi tersebut untuk merakit truk dan SUV
bertenaga mesin pembakaran internal.
Di tengah situasi tersebut, Bolt
dihadirkan kembali setelah jeda singkat dengan membawa beberapa peningkatan
teknis, termasuk penggunaan baterai LFP berkapasitas 65 kWh yang mampu
menghasilkan tenaga 210 hp serta jarak tempuh hingga 422 km dalam sekali pengisian
daya.
Meskipun dijual dengan harga yang tergolong kompetitif mulai dari 27.600 dolar AS (sekitar Rp 493,7 juta), Chevrolet Bolt versi baru ini gagal mengulang kesuksesan pendahulunya. Laporan terbaru menyebutkan bahwa target produksi awal yang dipatok mencapai 150.000 unit kini dipangkas hingga 75 persen.
Secara keseluruhan, total produksi
hingga masa penghentian nanti diperkirakan hanya akan mencapai sekitar 35.000
unit. Angka penjualan harian dan bulanan menunjukkan penurunan yang sangat
signifikan, di mana pada paruh pertama tahun ini Chevrolet hanya mampu
mengantongi penjualan sekitar 4.224 unit.
Lesunya angka penjualan ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung, mulai dari dihilangkannya insentif
pajak dari pemerintah federal, minimnya promosi pemasaran, hingga desain
eksterior yang dianggap terlalu mirip dengan generasi terdahulu sehingga kurang
memberikan penyegaran visual bagi konsumen.
Di sisi lain, pergeseran preferensi
konsumen juga dipengaruhi oleh hadirnya alternatif lain di dalam lini Chevrolet
sendiri, seperti Equinox EV yang mendapatkan respons jauh lebih positif di
pasaran.
Meskipun ditawarkan dengan rentang
harga yang sedikit lebih tinggi, Equinox EV menawarkan dimensi yang lebih besar
serta jarak tempuh yang lebih jauh. Kegagalan Chevrolet Bolt untuk
mempertahankan posisinya mengindikasikan betapa cepatnya perubahan dinamika di
industri mobil listrik.
Keputusan GM untuk menghentikan
produksi Bolt menunjukkan fleksibilitas pabrikan dalam menyesuaikan strategi
manufaktur dengan permintaan pasar yang sebenarnya, ketimbang terus memaksakan
produksi model yang kurang menguntungkan secara bisnis.
