SLUK BLUK OTO - Mesin rotary, atau yang dikenal
secara teknis sebagai mesin Wankel, memiliki tempat yang sangat istimewa dalam
sejarah industri otomotif global.
Ketika berbicara mengenai jenis
mesin yang tergolong unik ini, benak hampir setiap penggemar otomotif akan
langsung tertuju pada satu pabrikan asal Jepang, yaitu Mazda.
Hubungan erat antara Mazda dan mesin
rotary bukan sekadar masalah pemasaran, melainkan sebuah kisah dedikasi,
keberanian rekayasa teknis, dan ketahanan dalam menghadapi berbagai krisis
industri yang tidak mampu dilalui oleh produsen mobil lainnya.
Pada era 1960-an, lisensi teknologi
mesin Wankel sebenarnya dibeli oleh banyak pabrikan besar di seluruh dunia.
Konsep dasar mesin ini sangat menarik karena menggunakan rotor berbentuk
segitiga melengkung yang berputar di dalam ruang oval, menggantikan posisi
piston naik-turun pada mesin konvensional.
Desain tersebut menghasilkan ukuran
mesin yang jauh lebih ringkas, bobot yang sangat ringan, vibrasi yang minim,
serta potensi putaran mesin yang tinggi dan halus.
Namun, sebagian besar pabrikan
dengan cepat menyerah karena menghadapi kendala teknis yang teramat rumit,
terutama keausan dini pada ujung rotor yang dikenal sebagai apex seal,
efisiensi bahan bakar yang buruk, dan tingginya emisi gas buang.
Di sinilah Mazda mengambil langkah
yang berbeda dan bersejarah. Melalui tim insinyur legendaris yang dijuluki Forty-Seven
Samurai, Mazda mencurahkan sumber daya yang masif untuk memecahkan masalah
apex seal tersebut.
Hasil kerja keras ini melahirkan
Mazda Cosmo Sport pada tahun 1967, yang menjadi mobil produksi massal pertama
di dunia dengan mesin rotary rotor ganda. Keberhasilan ini membuktikan bahwa
kendala teknis yang sebelumnya dianggap mustahil dapat diatasi melalui inovasi
tanpa henti.
Asosiasi antara Mazda dan mesin
rotary semakin mengakar kuat ketika pabrikan ini terus mempertahankan teknologi
tersebut di tengah krisis minyak dunia pada dekade 1970-an.
Saat pabrikan lain membuang proyek
ini, Mazda justru melahirkan lini mobil sport ikonik RX-series, mulai dari
RX-3, RX-7, hingga RX-8.
Puncak kebanggaan dari komitmen ini
tercipta pada tahun 1991, ketika Mazda 787B yang ditenagai mesin rotary
quad-rotor berhasil menjuarai ajang balap ketahanan paling bergengsi di dunia,
24 Hours of Le Mans.
Kemenangan bersejarah tersebut
menjadikannya mobil Jepang pertama yang meraih gelar Juara Umum di Le Mans,
sekaligus mengukuhkan mesin rotary sebagai simbol performa dan identitas unik
Mazda yang tidak dimiliki oleh pabrikan otomotif mana pun hingga saat ini.
