SLUK BLUK OTO - PT Toyota-Astra Motor (TAM) resmi
menghadirkan Toyota Hilux generasi ke sembilan di pasar Indonesia dengan dua pilihan
varian penggerak, yaitu tipe bermesin diesel konvensional dan varian bertenaga listrik
murni atau Battery Electric Vehicle (BEV).
Meski langkah ini tergolong mulai memperlihatkan taji inovasi Toyota dalam jalannya menyediakan kendaraan kerja ramah lingkungan, namun hal yang lebih menarik perhatian
konsumen otomotif tanah air ialah perbedaan harga yang sangat signifikan di
antara kedua varian tersebut.
Hilux BEV dibanderol mulai dari
Rp1,019 miliar On The Road (OTR) Jakarta, sementara Hilux varian diesel
dipasarkan mulai dari Rp466,3 juta OTR Jakarta unyuk tipe E Double Cabin 4x4 M/T.
Selisih angka yang menembus lebih
dari Rp500 juta ini secara otomatis memicu tanda tanya di tengah masyarakat
terkait faktor utama yang melatarbelakangi perbedaan nominal tersebut.
Menanggapi rasa penasaran publik,
Marketing Director Toyota Astra Motor, Bansar Maduma, memberikan penjelasan
mendalam mengenai perbedaan harga yang tergolong jauh tersebut.
Menurutnya, jurang pemisah harga ini
tidak sekadar disebabkan oleh penggantian mesin pembakaran internal menjadi
motor listrik, melainkan melibatkan perbedaan mendasar dari sisi teknologi,
konstruksi, serta besarnya investasi pengembangan yang dibutuhkan.
Hilux BEV dirancang mengusung sistem
penggerak All Wheel Drive (AWD) berbasis dua motor listrik yang disokong oleh
baterai berkapasitas 59,2 kWh.
Jika diperhatikan secara rinci pada
bagian bawah atau kolong kendaraan, seluruh konstruksi dan komponen yang
digunakan pada Hilux BEV benar-benar berbeda total jika dibandingkan dengan
versi mesin diesel.
Selain faktor komponen utama,
tantangan teknis dalam pengembangan kendaraan listrik komersial juga menjadi
pemicu tingginya biaya produksi.
Menghadirkan kendaraan listrik untuk
segmen pikap pekerja keras membutuhkan standar ketahanan yang jauh lebih tinggi
ketimbang mobil listrik perkotaan.
Baterai dan sistem penggerak listrik
pada Hilux BEV harus dipastikan mampu bertahan serta beroperasi secara optimal
di berbagai medan berat dan kondisi ekstrem.
Proses riset serta investasi besar
inilah yang memengaruhi penetapan harga jual akhir ke konsumen.
Di sisi lain, Hilux varian diesel
masih mengandalkan ketangguhan mesin 1GD-FTV berkapasitas 2.800 cc yang
dipadukan dengan sistem penggerak roda 4x4, sebuah racikan yang sudah teruji
dan diproduksi secara massal dalam skala luas.
Oleh karena itu, Toyota berharap
konsumen tidak memandang selisih harga tersebut sebagai sebuah kekurangan,
melainkan sebagai bentuk konsekuensi dari penerapan teknologi tinggi, biaya
investasi riset, serta ketangguhan performa listrik murni yang ditawarkan oleh
Hilux BEV demi memenuhi kebutuhan aktivitas di medan berat.
